Menemukan Ritme Baru: Cara Saya Keluar dari Kebiasaan Memaksa Diri
Nama: Mouretta Babela Ekky Rahmadanty
Nama Kelompok: 12_LIMBIC
A. Masalah yang Pernah Saya Hadapi
Selama kuliah, saya pernah mengalami masa yang cukup melelahkan karena satu hal yang sebenarnya sederhana: saya terlalu sering mengerjakan banyak tugas tanpa mempertimbangkan waktu, kondisi fisik, bahkan cuaca. Saya tipe orang yang kalau sudah ada waktu senggang, pasti langsung saya kebut semua pekerjaan. Awalnya saya pikir ini kebiasaan yang bagus karena saya bisa menyelesaikan banyak hal dalam waktu singkat. Tapi ternyata kebiasaan ini justru bikin saya sering kelelahan dan kehilangan keseimbangan antara kuliah, kegiatan kampus, dan kebutuhan diri sendiri.
Salah satu pengalaman yang paling terasa adalah saat kerja kelompok. Meskipun namanya “kerja kelompok”, pada kenyataannya saya yang mengerjakan 80% dari tugas itu sendirian. Bukan karena saya ingin terlihat paling bisa, tapi karena saya merasa lebih tenang kalau semuanya cepat selesai. Teman-teman kelompok biasanya bilang akan mengerjakan bagian mereka, tapi sering molor, dan saya tidak suka menunda. Akhirnya, daripada menunggu sampai mepet deadline, saya pilih mengerjakan semuanya sendiri.
Sayangnya pola seperti ini membuat saya terbiasa mengorbankan waktu makan, jam istirahat, bahkan memaksakan diri bekerja meski kondisi tubuh tidak mendukung. Ada kalanya saya memaksakan mengerjakan tugas sampai larut ketika tubuh sudah lelah. Ada juga saat-saat di mana hujan deras atau cuaca panas sekali tapi saya tetap memaksakan pergi atau menyelesaikan tugas di luar karena merasa harus “menghabiskan” pekerjaan hari itu.
Sampai akhirnya, tubuh saya mulai kasih tanda. Saya gampang pusing, gampang lelah, dan sulit fokus. Di titik itu saya mulai sadar bahwa masalahnya bukan pada kuliah yang banyak atau tugas yang sulit. Masalahnya ada pada saya yang tidak memberi batasan, tidak mengatur ritme, dan terlalu memaksakan diri untuk selalu cepat, selalu selesai duluan, dan selalu bisa diandalkan.
Dari pengalaman itu, saya mulai belajar bahwa menyelesaikan tugas bukan soal siapa yang paling cepat, tapi siapa yang mampu menjaga keseimbangan. Saya mulai sadar bahwa saya tidak harus memikul semuanya sendirian, apalagi dalam kerja kelompok. Justru tujuan kerja kelompok adalah berbagi. Perlahan-lahan, saya mulai memahami bahwa saya juga butuh jeda, butuh makan sebelum aktivitas, dan butuh istirahat supaya tidak tumbang di tengah jalan.
B. Identifikasi Penyebab Masalah
Dari pengalaman tersebut, saya menemukan beberapa penyebab utama kenapa masalah itu bisa terjadi:
1. Terlalu memaksakan diri untuk selalu sigap menyelesaikan tugas
Saya terbiasa berpikir bahwa kalau saya bisa mengerjakan sekarang, maka harus saya kerjakan sekarang. Tanpa sadar, saya sering mengabaikan kondisi fisik dan mental sendiri.
2. Tidak punya batasan waktu dan ritme kerja yang jelas
Saya tidak pernah memberi jeda untuk makan dulu, istirahat sebentar, atau menata ulang energi. Pokoknya kalau ada waktu kosong, langsung saya isi dengan kerja.
3. Terlalu ingin semuanya selesai cepat
Saya punya kebiasaan “gaspol” ketika free. Padahal kerja terlalu cepat tanpa perencanaan kadang bikin hasilnya tidak jauh lebih baik, dan justru membuat saya cepat capek.
4. Teman kelompok lambat mengerjakan meski sudah saya ingatkan
Saya bukan tidak pernah membagi tugas atau mengingatkan. Saya sudah jelaskan bagian masing-masing, tapi mereka sering menjawab, “nanti ya,” “iya sebentar lagi,” atau malah menghilang. Karena saya tidak suka menunda, akhirnya saya kerjakan sendiri daripada menunggu lama. Lama-lama, saya sendiri yang terbiasa menanggung semuanya, padahal itu bukan tugas saya seorang.
C. Cara Mengatasi Masalah
Setelah menyadari penyebabnya, saya mencoba memperbaiki cara saya mengatur waktu dan diri sendiri. Tiga langkah ini sangat membantu:
1. Memberi jeda dan mulai makan dulu sebelum kegiatan
Saya mulai menentukan batasan: kalau mau kerja, saya pastikan perut tidak kosong dan tubuh dalam kondisi siap. Ternyata ini membuat saya lebih fokus dan tidak gampang stres.
2. Mengatur ritme kerja, tidak lagi memaksakan semua selesai dalam satu waktu
Saya mulai membagi pekerjaan menjadi bagian-bagian kecil. Tidak perlu langsung disikat semua dalam satu kali duduk. Dengan cara ini, energi saya jauh lebih stabil dan tidak cepat habis.
3. Belajar melepaskan beban yang bukan sepenuhnya tanggung jawab saya
Dalam kerja kelompok, saya mulai benar-benar menjalankan pembagian tugas. Kalau ada yang lambat, saya ingatkan sewajarnya, tapi tidak lagi mengambil alih bagian mereka. Saya belajar percaya bahwa tidak semua hal harus dikerjakan oleh saya. Saya tidak harus jadi “penyelamat tugas” setiap saat.
Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa mengatur waktu bukan soal membuat hidup sempurna, tapi soal membuat hidup jadi lebih terkontrol. Tidak apa-apa tidak bisa melakukan semuanya. Yang penting adalah kita tahu batasan diri dan berusaha menjalani hari dengan lebih bijak.
Komentar
Posting Komentar